Selasa, 23 Juni 2009
5 Anugerah GUSTI ALLAH Pada Manusia
Piranti atau unsur yang dibekali GUSTI ALLAH pada manusia itu bersifat mulai 'kasar' sampai 'halus'. Apa saja piranti-piranti itu? Piranti tersebut ada lima hal yaitu:
1. Raga
2. Budi
3. Hati Nurani
4. Rasa
5. Sukma
Dari kelima hal tersebut semuanya diwajibkan untuk tansah manembah GUSTI ALLAH. Namun ketika dipanggil oleh Hyang Maha Suci, yang akan berangkat menemui GUSTI ALLAH hanyalah sukma. Raga tidak akan berangkat karena bersifat jisim atau bangkai.
Pernahkah Anda melihat pesawat ulang-alik luar angkasa seperti Columbia. Nah, ketika berangkat ke luar angkasa, maka selongsongan luar yang berupa pesawat jet-nya akan melepaskan diri setelah tergesek oleh atmosfir bumi dan terbakar. Sedangkan pesawat inti Columbia itu sendiri akan terus bergerak ke luar angkasa.
Selongsong luar pesawat jet yang terbakar itulah ibarat raga manusia yang tidak akan ikut berangkat menemui Hyang Suksma. Ada bait tembang yang berbunyi:
Kawruhana... (Ketahuilah)
Dununge wong uripun niki, (Arti Orang Hidup Ini)
Lamun mbenjang yen wus palastra (Ketika Esok Sudah Dipanggil)
Wong Mati Nyang Endi Parane? (Orang Mati, Kemana Perginya?)
Umpamakno Peksi mabur (Ibarat Burung Terbang)
Mesak saking kurunganipun (Melesat dari Sangkarnya)
Umpamakno wong lungo sonjo (Ibarat Orang yang Bepergian)
Njang sinanjang, wong lungo sonjo wajibe mulih (Orang Bepergian Wajib untuk Pulang)
Mulih ning ngisor kamboja. (Pulang di Bawah Pohon Kamboja)
Itulah gambaran dari raga yang akan menjadi bangkai atau jisim. Namun tidak demikian dengan empat piranti lainnya seperti Budi, Hati Nurani, Rasa dan Sukma. Budi, Hati Nurani dan Rasa akan menjadi saksi kita ketika menghadap GUSTI ALLAH. Sementara Sukma adalah pakaiannya.
Kelima piranti tersebut, ketika kita simak akan terus berkembang menjadi macam-macam panembah yaitu:
1. Sembah Raga
2. Sembah Budi
3. Sembah Hati
4. Sembah Rasa
5. Sembah Sukma
Dari kelima sembah tersebut sama-sama mampu mengantarkan doa/panuwun kita pada GUSTI ALLAH. Semuanya tergantung pada keikhlasan dan kebersihan hati dan jiwa kita ketika berdoa. Namun kadar sembah yang paling tinggi adalah sembah sukma. Pertanyaannya, jika Anda pelaku spiritual, Anda sudah berada ditaraf sembah yang mana? Hanya Anda dan GUSTI ALLAH sendiri yang tahu
Mengenal Diri dari Serat Asmaralaya
Dalam sebuah hadist di ajaran Islam disebutkan “Barangsiapa yang mengetahui dirinya sendiri, maka ia akan tahu Tuhannya”. Nah, kalau Anda ingin mengetahui diri Anda pribadi, tidak ada salahnya belajar pada Serat Asmaralaya. Serat Asmaralaya tersebut antara lain berbunyi:
Ana wiku medhar ananing hyang agung
kang nglimputi dhiri
wayangan nya dumumung neng netranira
bunder nguwung lir sunaring surya nrawung
aran nur muhammad
weneh muwus jatining kang murbeng idhup
yaiku pramana
kang misesa ing sakalir
dumuning neng utyaka guruloka
iya iku tembung arab baitul makmur
Ada Orang Bijak menjelaskan adanya Hyang Agung
Yang menyelimuti diri
Gambarannya ada pada Matamu sendiri
Bentuknya bundar memancarkan sinar surya yang menerawang
Yang dijuluki Nur Muhammad
Memberikan kesejatian dalam hidup
Yaitu pramana
Yang menguasai segalanya
Letaknya ada di guruloka
Yaitu bahasa Arabnya baitul makmur
Tandane kang nyata
aneng gebyaring pangeksi
lwih waspada wruh gumlaring alam donya
mung pramana kang bisa nuntun marang swarga
ana rupa kadya rupanta priyangga
kang akonus saking kamungsangta wus
saplak nora siwah
amung mawa caya putih
yaiku aran mayangga seta
Tandanya yang nyata
Ada dalam gebyar angan-angan
Lebih waspada tahu gumelarnya alam dunia
Hanya pramana yang bisa menuntun ke Surga
Ada bentuk rupa seperti rupa orang
Yang mengaku dari prasangka
Yang tidak berbeda satu dengan lainnya
Hanya lewat cahaya putih
Yang disebut Mayangga Seta
ana cahya seta prapta geng sabda
iya iku nur muhammad kang satuhu
cahya maya maya
jumeneng munggwing unggyaning
tuntung driya anartani triloka
baitul makmur baitul mukharam tetelu
ing baitul muqadas
Ada cahaya putih seperti SabdaNya
Iya itu Nur Muhammad yang sejati
Cahaya maya-maya (samar-samar)
Terletak umpama tingkatan
Dalam indera yang disebut triloka (tiga tempat)
Baitul makmur baitul mukharam ketiga
Di baitul muqadas
sumanar prapteng pangeksi
liyepena katon ponang cahya maya
anarawung warna warna wor dumunung
nuksmeng cahya kang sajati
ingkang padhang gumilang tanpa wayangan
langgeng nguwung angebeki buwana gung
mulih purwanira
Bersinar tanpa henti
Gambarannya tampak mirip cahaya maya
Berbaur warna-warna yang ada
Dengan cahaya yang sejati
Yang terang benderan tanpa halangan
Langgeng memenuhi buwana yang agung
Terhadap dirimu
duk durung tumurun maring
ngarcapada awarna warana raga
cahyanipun gumilang gilang nelawung
tanpa wewayangan
nelahi sesining bumi
gya tumurun dadya manungsa
Ketika belum turun
Ke alam dunia berbentuk raga
Cahayanya penuh gebyar
Tanpa halangan
Memenuhi seisi bumi
Akhirnya segera turun menjadi manusia
marma temtu yen prapta antareng layu
ana cahya prapta
gumilang pindhah angganing
tirta munggwing ron lumbu amaya maya
dyan puniku ciptanen dadya sawujud
lawan sabdanira
kang sinedyan samadyaning
ngen ngenta yekti waluya sampurna
mulya wangsul mring salira numuhun
Tentu saja ketika sudah waktunya
Ada cahaya
Bersinar berpindah warna
Air seperti berbentuk samar-samar
Yaitu cipta yang menjadi satu wujud
Dengan sabda mu sendiri
Yang langsung terjadi
Yang diangan-angankan pasti terjadi sempurna
Mulia kembali pada dirimu sendiri
sabda gaib babar
bali angebaki bumi
tribuwana kebak bangkit megat nyawa
Sabda gaib kembali digelar
Kembali memenuhi bumi
Tribuwana penuh bangkit memisahkan nyawa
Serat asmalaya adalah salah satu serat Jawa yang berbentuk suluk atau piwulang, berisikan ajaran suci berdasarkan ajaran Islam yang dipadukan dengan ajaran kejawen. Lebih dari itu, serat ini adalah hasil pemikiran dan perenungan nenek moyang kita. Serat ini penuh dengan pesan moral yang bernafaskan Islam. Ajaran yang terkandung dalam serat ini erat kaitannya dengan perbuatan dan kelakuan yang merupakan cerminan budi pekerti manusia
kenali diri kita...
Renungkan ini: Jangan lakukan salat
Andai tiada tahu siapa dipuja
Bilamana kaulakukan juga
Kau seperti memanah burung
Tanpa melepas anak panah dari busurnya
Jika kaulakukan sia-sia
Karena yang dipuja wujud khayalmu semata
Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
Dengar: Walau siang malam berzikir
Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
Zikirmu tidak sempurna
Zikir sejati tahu bagaimana
Datang dan perginya nafas
Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
Hayat melalui yang empat
Pedoman hidup sejati
Ialah mengenal hakikat diri
Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
Oleh karena itu ketahuilah
Tempat datangnya yang menyembah
Dan Yang Disembah
Pribadi besar mencari hakikat diri
Dengan tujuan ingin mengetahui
Makna sejati hidup
Dan arti keberadaannya di dunia
Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya
mengutip sejarah Syekh Siti yang aku kagumi..
Siapakah Syekh Siti Jenar? Meskipun setidaknya Intisari telah menjejaki - yang disebut sebagai - dua kuburan Syekh Siti Jenar, masing-masing di Kemlaten, Cirebon maupun Gedong Ombo, Tuban, agaknya Syekh Siti Jenar tidak bisa dipastikan keberadaan historisnya secara ilmiah dalam kategori positivistik. Keberadaan Syekh Siti Jenar adalah keberadaan sebuah makna, baik dalam bentuk suatu ajaran yang tercatat pada berbagai naskah, maupun makna keberadaan dalam penafsiran politis, sebagai tokoh oposisi terhadap hegemoni kekuasaan rohani para wali. Suatu konstelasi yang sebetulnya juga merupakan tipologi konstelasi politik duniawi, ketika kerajaan-kerajaan Islam di Jawa telah menjadi dominan, tetapi pusat-pusat kekuasaan pra-Islam dengan segenap aliran kepercayaannya, belum sepenuhnya terleburkan - bahkan sampai hari ini.
Wali yang mencemaskan
Dalam ziarah pustaka ini, gambaran Nancy K. Florida tentang Tiga Guru Jawa (Syekh Siti Jenar, Syekh Malang Sumirang, Ki Ageng Pengging) dalam disertasinya, Menyurat Yang Silam Menggurat Yang Menjelang (1995) akan dikutip sebagai pengantar:
“Di antara ketiga empu tersebut, Syekh Siti Jenarlah yang paling dikenal, dengan ketenarannya sebagai wali pembangkang yang paling utama di Jawa bahkan hingga saat ini. Berbagai versi kisahnya, baik lisan maupun tulisan, melimpah. Dialah tokoh yang mewakili penyebarluasan, dan yang disebarluaskannya adalah pengetahuan esoteris eksklusif yang keluar dari kalangan elite politik-spiritual ke dalam budaya khalayak ramai. Atas penyebarluasan inilah maka para wali merasa terpanggil untuk memusnahkan Syekh Siti Jenar. Mereka melihat ancaman politik yang benar-benar nyata dalam dirinya; lantaran sebagai sosok penyebarluasan dan populisme dia dengan sendirinya menentang pemusatan dan penyatuan kekuasaan.
“Dalam benak khalayak ramai, Siti Jenar dikenang sebagai patron wong cilik. Garis besar kisah hidupnya menggarisbawahi keterkaitan organisnya dengan lapis terendah masyarakat. Dalam versi kisahnya yang paling tersebar luas, Siti Jenar diceritakan sebagai seekor cacing tanah yang secara ajaib berubah menjadi manusia. Pengubahan ini terjadi karena sang cacing secara kebetulan menerima pengetahuan esoteris yang mengantarnya menuju Hakikat Sejati. Sekali menjadi manusia, dia yang semula cacing ini kemudian berani untuk membuka tabir Pengetahuan Makrifat ini kepada khalayak ramai. Barangkali anggapan bahwa penyampaian pengetahuan semacam itu akan dapat mengubah martabat “cacing-cacing” yang lain adalah kecemasan elite spiritual-politik di ibu negeri Demak.
“Selain dosanya ‘menyingkap sang Rahasia’ kepada khalayak ramai, Siti Jenar juga dipersalahkan karena menyepelekan syariat, hukum suci Islam. Dan di dalam banyak penuturan kisahnya, dia dituduh sebagai orang yang mengaku dirinya Allah. Bagaimanapun juga, yang paling mencuat dan diberitakan adalah dosanya menyebarluaskan Ilmu Gaib; dan lantaran dosa inilah sang wali diadili dan dijatuhi hukuman mati. Terdapat berbagai versi tentang ‘pengadilan’ dan eksekusinya. Masing-masing versi perlu untuk dipahami dengan latar belakang ingatan kolektif masyarakat tentang kisahnya dan dalam bandingan dengan versi lainnya. Yang terpenting untuk diperhatikan adalah keragaman kisah atas apa yang terjadi dengan jasad sang wali; berkisar dari ekstrem yang satu bahwa jasadnya berubah menjadi bangkai busuk seekor anjing hingga ke ekstrem yang lain (yakni pada versi Babad Jaka Tingkir) bahwa sang wali akhirnya mikraj ke surga.”
Adapun asal nama Kemlaten, kuburan Syekh Siti Jenar di Cirebon, terasalkan dari kisah dalam Babad Cerbon, bahwa ketika para wali membongkar kuburan Siti Jenar setelah dihukum mati, untuk membuktikan kebenaran ajarannya: bahwa jika ia mati di dunia ini artinya hidup abadi di dunia yang sebenarnya -ternyata memang tak menemukan jasad, melainkan sekuntum bunga melati. Seperti juga telah sering ditemukan dalam riwayat wali yang sembilan, istilah “politik dongeng” menegaskan terdapatnya kepentingan ideologis di balik segenap “sejarah” tersebut. Kesadaran tentang perlu diabaikannya keberadaan dongeng-dongeng tersebut sebagai fakta historis, juga tersurat dalam catatan sejarawan Graaf dan Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram (1974), seperti ketika memberi catatan atas keberadaan Dewan Walisanga:
“Sudah jelas bahwa Musyawarat orang-orang suci menurut cerita legenda ini, yang dihadiri oleh mereka semua, sukar kiranya dapat sungguh-sungguh terjadi. Dugaan ini wajar, karena antara kedua tokoh historis Sunan Ngampel Denta dan Sunan Kudus terdapat jarak waktu beberapa generasi (dari pertengahan abad ke-15 sampai dekade-dekade pertama abad ke-16).”
Ajaran tentang ada
Lantas, ajaran macam apa sebetulnya, yang dianggap “benar tapi berbahaya”, sehingga penyebarnya begitu patut menerima hukuman mati dalam pandangan Walisanga? Dalam kenyataannya, buku-buku yang memuat dan menyebarkan teks yang disebut sebagai “ajaran” Syekh Siti Jenar ini beredar luas pada masa kini, beberapa di antaranya bahkan berpredikat best seller alias laris manis tanjung kimpul, yang bukan hanya tidak mengundang kecaman apa pun dari para pemeluk teguh syariat, melainkan justru ditulis oleh para ahli agama itu sendiri. Untuk menyebut beberapa, bisa diperiksa dua buku laris Abdul Munir Mulkhan, Syekh Siti Jenar: Pergumulan Islam-Jawa (1999) dan Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar (2001), Muhammad Sholikhin, Sufisme Syekh Siti Jenar: Kajian Kitab Serat dan Suluk Siti Jenar (2004), Sudirman Tebba, Syaikh Siti Jenar: Pengaruh Tasawuf Al-Hallaj di Jawa (2003), dan yang ditulis dengan sapaan hangat serta indah karya Achmad Chodjim, Syekh Siti Jenar: Makna “Kematian” (2002). Namun untuk mengintip apa yang disebut “ajaran rahasia” tersebut, pustaka yang akan diziarahi masih dari karya ilmiah P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa (1935).
Tidak mungkin memindahkan ulasan panjang lebar dalam disertasi Zoetmulder tersebut, tapi kita mulai saja dengan petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.
Dalam disertasi filsafat ini Zoetmulder menekankan, bahwa dengan teks semacam ini Syekh Siti Jenar dan murid-muridnya telah ditafsirkan memberi kesan seolah-olah Tuhan itu tidak ada, padahal, “Menurut hemat kami ucapan-ucapan serupa hendaknya ditafsirkan sebagai sebuah polemik serta penolakan terhadap ide mengenai seorang Tuhan yang berpribadi; sebaliknya Siti Jenar mengetengahkan ide mengenai suatu Jiwa Semesta, ia manunggal dengan Hyang Suksma, manunggal dengan hidup yang tunggal, yakni dirinya sendiri.”
Bukan Al-Hallaj, tapi India
Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-Husain ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj sahaja, sufi Persia abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar, karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, “Akulah Kenyataan Tertinggi,” yang menjadi alasan bagi hukuman matinya pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut. Tepatnya persona Syekh Siti Jenar memang dihidupkan untuk dimatikan.
Namun karena penelitiannya tentang segenap pengaruh terhadap sastra suluk Jawa, Zoetmulder berpendapat lain tentang ajaran Syekh Siti Jenar. “Jelaslah betapa besar pengaruh dari ide-ide India. Pengaruh itu tampak juga dari sikap terhadap nilai dan kenyataan dunia, yang dianggap hanya suatu permainan pancaindera, sebuah impian, segalanya hanya bersifat semu dan tak ada sesuatu yang nyata, suatu godaan, sebuah sulapan yang menimbulkan keinginan manusia dan dengan demikian mengurungnya. Singkatnya, di mana-mana kita mengenal kembali pandangan dari India.
“Akhirnya, juga kematian Siti Jenar - menurut logatnya sendiri, masuknya ke dalam kehidupan -seperti dilukiskan dalam versi yang kami bahas di sini, bernafaskan suasana India. Dengan menutup sendiri semua pintu dengan dunia luar ia membiarkan nafas kehidupan keluar dari badannya yang lalu mempersatukan diri dengan Sukma semesta. Dalam segala uraian ini hanya sedikit sekali pengaruh dari dunia Islam, sekalipun kadang-kadang disebut sebuah kutipan dalam bahasa Arab sekadar bahan pendukung. Sebaliknya menonjol sekali, betapa ajaran ini serasi dengan suatu bagian dari Arjunawiwaha yang melukiskan bagaimana Bhatara Indra dalam wujud seorang resi tua menyampaikan ajaran kesempurnaan kepada Arjuna yang sedang bertapa.
“Bila akhirnya tokoh Siti Jenar kita bandingkan dengan apa yang kita ketahui mengenai Al-Hallaj, maka tampak, bahwa keserasian hanya berkaitan dengan beberapa sifat dari kisah itu, tetapi kesamaan dalam hal ajaran jarang kita jumpai.”
Setelah menguraikan konsep ajaran Al-Hallaj yang dirujuknya dari peneliti sufisme terkenal Louis Massignon, hanya satu hal dianggap Zoetmulder agak mirip, yakni tentang permintaan maaf telah mengungkap rahasia ilahi (ifsa-al-asrar) - itu pun menurutnya Siti Jenar tidak minta maaf. Dijelaskannya, “Tidak mengherankan, bahwa dalam ajaran Siti Jenar tak terdapat bekas-bekas ajaran otentik Al-Hallaj.”
Ia pun merumuskan, “Perbedaan pokok antara kedua tokoh itu ialah Al-Hallaj selalu ditampilkan sebagai seorang sufi yang terbenam dalam cinta akan Tuhan, sedangkan dalam diri Siti Jenar sifat tadi hampir tidak tampak. Siti Jenar terutama dikisahkan sebagai seorang yang mandiri, akal bebas yang tidak menghiraukan raja maupun hukum agama; tak ada sesuatu pun yang menghalanginya menarik kesimpulan dari ajarannya. Dengan demikian ia menjadi wali yang paling digemari rakyat dan yang riwayatnya masih hidup di tengah-tengah orang Jawa.”
Lemah Abang serba pinggiran
Dengan konteks pengaruh India dan bukan Islam da lam ajaran Syekh Siti Jenar, menjadi jelas konteks duniawi yang terpadankan dengannya, seperti teruraikan oleh Graaf dan Pigeaud mengenai kedudukan politis Pengging sebagai kerajaan “kafir” terhadap kekuasaan Demak. Dalam legenda, Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging adalah murid Syekh Siti Jenar yang membangkang dan tidak bersedia tunduk maupun melawan Sultan Demak - yang membuat kedudukannya sulit diatasi meski Sunan Kudus ia izinkan untuk membunuhnya. “Tindakan Sunan Kudus yang sangat terkenal terhadap ’si bid’ah’ Kebo Kenanga itu sesuai dengan ketegasan terhadap penghujah Allah Syekh Lemah Abang (atau Pangeran Siti Jenar) sendiri. Syekh itu adalah guru ilmu kebatinan empat bersaudara: Yang Dipertuan di Pengging, di Tingkir, di Ngerang, dan di Butuh.” Bahwa Pengging sebelumnya disebut-sebut sebagai kerajaan “kafir” yang masih berdiri setelah Majapahit runtuh, jelas menunjukkan personifikasi Syekh Siti Jenar sebagai representasi perlawanan, terhadap dominasi Demak sebagai representasi hegemoni kekuasaan rohani sekaligus duniawi.
Mungkinkah bisa dipahami sekarang, mengapa banyak wilayah di Jawa bernama Lemah Abang, dan selalu terletak di pinggiran?
Sumber : INTISARI No. 517 TH. XLIII, AGUSTUS 2006
mari kita simak makna dan arti
Adanya pada hakekatnya adalah pendukung Hyang …. wujud atau kebenaran.
2. Na : Nadyan ora kasad mata pasti ana.
Meskipun tidak nampak oleh mata, tetapi ia pasti ada.
3. Ca : Careming Hyang yekti tan ceta wineca.
Nikmatnya Hyang yang sesungguhnya tak (dapat) diuraikan dengan jelas(mempergunakan kata-kata). Karena tak ada sesuatu yang menyerupai Hyang.
4. Ra : Rasakena rakete lan angganira.
Rasakanlah eratnya dengan badanmu.
5. Ka : Kawruhanan jiwa kongsi kurang weweka.
Ketahuan dari jiwa jika kurang diusahakan.
6. Da : Dadi sasar yen sira nora waspada.
Jika tidak waspada (kau) akan menjadi sesat.
7. Ta : Tamatna prabaning Hyang Sing Sasmita.
Perhatikanlah cahaya Hyang yang memberikan isyarat.
8. Sa : Sasmitane kang kongsi bisa karasa.
Isyarat yang sampai dapat dirasakan.
9. Wa : Waspadalah wewadi kang sira gawa.
Lihatlah dengan seksama (sifat) batin sesungguhnya yang anda bawa.
10. La : Lalekna yen sira tumekeng lalis.
Lupakanlah pada waktu anda sampai pada kematian.
11. Pa : Patisasar tan wus manggyapapa.
Kematian sesat yang tak sampai pada tujuan akan menjumpai kesengsaraan.
12. Dha : Dhasar beda lan kang wus kalis ing godha.
Pada dasarnya berbeda dengan (orang) yang telah tak terpengaruh oleh godaan.
13. Ja : Jangkane mung jenak jemjeming jiwaraga.
Rencana tindakannya, hanya tahan tenteram didalam kebesaran jiwa.
14. Ya : Yatnanana liyep luyuting pralaya.
Lihatlah dalam keadaan lupa-lupa ingat mengaburnya pralaya/kematian.
15. Nya : Nyata sonya nyenyet lebeting kadonyan.
Nyata (bahwa) sunyi senyap (segala) jejak keduniawian.
16. Ma : Madyen ngalam perantunan aja samara.
Ditengah “ngalam perantunan” janganlah ragu-ragu.
17. Ga : Gayuhaning tanaliyan jung sarwa arga.
Tak ada lain yang hendak dicapai kecuali segala “gunung” atau “jamuan”.
18. Ba : Bali murba wisesa ing njero njaba.
Kembali mengatur menguasai (segi) luar dan dalam.
19. Tha : Thukulane widadarja tebah nistha.
Tumbuhnya kekuatan hukum menembus kerendahan/kehinaan.
20. Nga : Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.
guru sejati
Itulah kemudian muncul adanya paribasan/istilah “ananing papan tanpa tulisan, ananing tulisan tanpa papan”. Makna sederhana dari istilah tersebut kurang lebih adalah “adanya papan/media tanpa adanya tulisan, dan adanya tulisan/cerita tanpa tertulis di suatu media”.
Ananing papan tanpa tulisan, maksudnya adalah bahwa segala yang telah dialami manusia akan tersimpan dengan baik secara tidak tersurat di didalam memori otak manusia, baik secara tidak sengaja maupun tidak. Kejadian-kejadian lampau akan tersimpan dengan baik dalam memori yang kelak akan menjadi suatu pengalaman bagi mereka dengan meningat dan menceritakan kembali kejadian-kejadian tersebut. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa ananing papan tanpa tulisan adalah perwujudan manusia seutuhnya dengan segala ingatan dan memori yang telah tersimpan dalam otak dan benak pikiran masing-masing. Perwujudan hidup manusia seutuhnya diibaratkan sebagai suatu media yang menyimpan segala kejadian, pengalaman, dan ilmu pengetahuan.
Ananing tulisan tanpa papan, maksudnya adalah implementasi/pelaksanaan dari suatu kejadian, pengalaman ataupun ilmu pengetahuan yang pernah didapat dari berbagai sumber. Apa yang pernah dialami manusia cenderung akan mengulang, mengeluarkan (berupa cerita, legenda, sejarah), mengajarkan kembali ilmu pengetahuan, atas apa yang pernah mereka alami atau mereka dapatkan dari suatu sumber tersebut. Secara sederhana “ananing tulisan tanpa papan” adalah kemampuan daya manusia untuk mengulang dan mengingat kembali yang pernah mereka dapatkan yang di ungkapkan, dituangkan, diulang kembali secara tersirat tanpa tercetak pada suatu media (papan)
Bisa dikatakan sifat manusia adalah memiliki jiwa “guru sejatining wong urip”, yang selama ini sering dicari kebanyakan manusia untuk dijadikan maha guru.
Justru pada sifat dasar manusia itulah “guru sejatining wong urip” karena memiliki kemampuan daya ingat akan apa yang pernah mereka alami dan dapatkan di jagad bumi ini.
Disisi lain, ungkapan atau istilah urip mung mampir ngombe bisa menimbulkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman itu bisa muncul karena seakan-akan orang Jawa berpandangan bahwa hidup ini tidaklah terlalu berarti, sehingga bisa disepelekan. Padahal, istilah atau ungkapan tersebut sebenarnya mengandung pokok pikiran Jawa yang dalam mengenai ngelmu sangkan-paran atau ilmu asal dan tujuan hidup manusia. Dan yang perlu dipahami ialah bahwa dalam ilmu tersebut sesungguhnya tidak pernah memandang sepele kehidupan di dunia ini serta segala masalah-masalahnya.
Kesalahpahaman tentang urip mung mampir ngombe bisa diluruskan dengan mencermati tembang Dandhanggula yang merupakan sumber ungkapan atau istilah tersebut berasal:
Kawruhana sejatining urip pahamilah makna sejati hidup ini
Urip ana jroning alam ndonya hidup di dalam dunia ini
Bebasane mampir ngombe ibaratnya mampir minum
Umpama manuk mabur laksana burung terbang
Lunga saka kurungan neki pergi dari sarang
Pundi pencokan mbenjang hati-hati jangan sampai kesasar
Ywa konsi kaleru andaikan orang bertandang
Umpama lunga sesanja bertamu kemanapun
Njan sinanjan ora wurung bakal mulih akhirnya juga pulang
Mulih mula-mulanya kembali ke asal muasalnya sendiri
Dalam baris ketiga yang berisi delapan suku kata tersebut tidak ada kata mung, yang berarti “hanya” atau “sekadar”. Penambahan kata mung itu terjadi mungkin karena orang terpeleset dalam membunyikan tembang, sambil berusaha menepati aturan jumlah kata yang harus ada delapan dalam baris ketiga. Akibatnya, akhiran ne pada kata bebasane dihilangkan dan dan untuk gantinya ditambahkan kata mung. Penambahan ini memang kelihatannya sepele dan tidak memiliki makna, padahal justru disana akar salah tafsir tentang hidup iki mampir ngombe. Karena penambahan itu kalimat menjadi (urip iki) bebasane mung mampir ngombe, yang kemudian bisa ditafsirkan bahwa hidup ini seakan sekadar mampir minum belaka, karena itu hidup ini juga tidak terlalu berarti. Ini jelas berlawanan dengan maksud kalimat yang asli, apalagi kalau dilihat dari maksud seluruh tembang. Kekeliruan tersebut memang tidak banyak diketahui, sehingga mungkin banyak orang Jawa memahami bahwa hidup ini benar-benar “hanya” untuk mampir minum. Jika demikian, koreksi diatas kiranya menggugah orang untuk menafsirkan kembali paham hidup orang Jawa tersebut secara baru.
Tiga unsur ngelmu sangkan paran
Ungkapan urip mampir ngombe kiranya harus dijelaskan dari ngelmu sangkan paran (ilmu asal dan tujuan hidup manusia). Ilmu sangkan paran dipahami sebagai ilmu yang hanya membicarakan dua unsur ini, yakni urip iki saka sapa (asalnya dari mana), dan urip iki pungkasane piye (tujuannya ke mana). Sesungguhnya masih ada satu unsur penting di antara kedua unsur tersebut, yakni urip iki arep ngapa (hidup ini mau apa). Yang terakhir ini adalah unsur yang mengenai hidup di dunia ini. Jadi unsur sangkan paran adalah : pertama, asal hidup manusia ; kedua, hidup di dunia ini ; dan ketiga, tujuan hidup manusia. Yang pertama, berkenaan dengan kesadaran bahwa manusia berasal dari Tuhan. Yang ketiga, berkenaan dengan kepulangan manusia ke Tuhan. Yang kedua, berkenaan dengan tugas, kewajiban dan lakon hidup manusia di dunia ini. Tanpa yang kedua, yang pertama dan ketiga tidak mempunya arti apa-apa. Maksudnya, tak mungkin Tuhan menciptakan manusia dan kemudian menarik manusia lagi kepadaNya jika Tuhan tidak mempunyai maksud apa-apa dengan manusia tersebut selama ia hidup di dunia. Jadi Tuhan menghendaki agar manusia ini benar-benar urip (hidup), tidak sekadar urip-uripan (hidup-hidupan). Makudnya, agar manusia memandang dengan serius hidupnya di dunia ini. Urip mampir ngombe adalah hal yang berkenaan dengan unsur yang kedua itu.
Mau apa manusia hidup di dunia? Ia hidup di dunia bukan untuk bisa langsung ke surga, melainkan untuk menjalankan tugasnya di dunia sesuai dengan kodratnya. Kalau ia tidak menjalankan tugasnya di dunia, bagaimana mungkin ia bisa sampai ke surga? Dan yang patut diingat bahwa semua tugas tersebut harus dijalankan dengan sebaik-baiknya menurut pakem (aturan dan kebiasaan). Jadi jangan hanya menuntut semuanya pada ‘Sang Dalang’ saja.
Bisa disimpulkan bahwa hidup manusia itu begitu penting. Disini, manusia menjadi utusan ilahi dengan menjalankan tugasnya sebagai ibadah. Sebelum berpikir tentang surga, manusia harus menjalankan apa yang umum dijalankan manusia di dunia. Kalau yang umum itu dilupakan, manusia menjadi aneh; ia seperti bukan manusia. Jadi kalau manusia hanya memikirkan surga, ia juga ‘melanggar’ apa yang umum itu, dan menjadi aneh.
Meminum kagagalan hidup
Di dunia ini manusia harus belajar untuk ngombe (minum). Ngombe di sini tidak hanya berarti ngombe toya (minum air), melainkan juga ngombe rasa, ngombe ngelmu, ngombe pangerten, dan ngombe lelakon. Dengan ngombe rasa, manusia memperdalam hati dan perasaannya. Dengan ngombe ngelmu, manusia memperdalam kebatinannya. Dengan ngombe pangerten, manusia memperkaya budinya. Dengan ngombe lelakon, manusia menyempurnakan panggilan hidupnya. Dengan ngombe semuanya itu, urip tidak sekadar menjadi urip-uripan thok (hidup-hidupan saja), tetapi urip (hidup) benar-benar.
Khusus mengenai ngombe lelakon, orang patut memberi perhatian serius. Harus diakui , manusia mau menerima hidupnya jika hidupnya lurus, benar, dan baik. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Manusialah yang sering tersesat, kesasar, dan keliru. Dan, manusia tidak mau menerima hidupnya yang demikian itu, termasuk keadaan yang ada di sekelilingnya. Ia tidak mau ngombe lelakon-nya. Artinya, ia tidak mau meminum lelakon kegagalannya. Bila demikian, manusia gagal menjadi manusia yang ganep (lengkap). Maka untuk ganepe urip (hidup yang lengkap), manusia harus berani menerima kegagalannya. Sering justru dengan minum kegagalannya itu, manusia bisa ngganepi dirinya sebagai manusia.
Jadi sebenarnya urip mampir ngombe itu mempunyai pesan: ngombe ya ngombe ning ora waton ngombe (minum ya minum, tapi jangan asal minum). Atau dengan kata lain urip itu memang mampir minum tetapi tidak asal minum. Nilai yang lain ialah sopo ngombe mesti nguyuh (siapa minum mesti kencing). Artinya, manusia juga harus berani membuang lagi apa yang telah diminumnya. Jelasnya, manusia harus berani membagikan harta-milik kepada sesama, karena pada prinsipnya semua berasal dari sesama. Kalau orang tidak mau berbagi tetapi hanya mau mencari, teru minum sampai kenyang, perutnya tidak bakal kuat menampung.
Jangan kesurga-surgaan
Dilihat sampai di sini, urip mampir ngombe itu sebenarnya adalah pegangan hidup yang menghormati dunia. Malahan, istilah urip mampir ngombe itu adalah kritik bagi pandangan yang kesurga-surgaan. Urip mampir ngombe itu mengingatkan bahwa manusia itu tidak hanya lahir dan mati, tetapi juga hidup. Sementara surga (atau neraka) belumlah jelas, hidup itu sendiri sudah sangat jelas manusia miliki. Maka sebaiknya manusia berpegangan pada apa yang jelas itu, yakni hidup di sunia ini, bukan hidup di dunia nanti.
Maka kurang tepat bila manusia hidup hanya berpikir tentang surga. Surga memang layak dan jelas menjadi sebuah cita-cita. Tetapi patut di ingat bahwa jalan ke sana adalah hidup ini sendiri. Jadi sebelum berpikir tentang surga, lebih baik mengolah manusianya terlebih dahulu. Maka, tidaklah tepat bila dalam berdoa, manusia hanya nyuwun swarga (meminta surga). Permintaan demikian kiranya keliru, karena permintaan itu terlalu ngangsa (memaksa-maksa). Dan permintaan itu kebangeten anggone njagakke (keterlaluan dalam mengharap). Yang perlu diminta sesungguhnya adalah rasa menyerah dan pasrah kepada Tuhan. Yang perlu diperhatikan ialah bahwa Allah Mahatahu, karena itu Dia juga paling tahu tentang apa yang kita tidak tahu tetapi kita butuhkan. Maka, penghormatan kepada Tuhan hanya dapat ditunjukkan ketika manusia hidup dalam dunia ini, di tengah-tengah berbagai soal-permasalahan hidup.
Urip mampir ngombe memang lebih berkenaan dengan ikhwal hidup di dunia ini. Tetapi patut diingat bahwa itu hanyalah salahsatu unsur dari ngelmu sangkan paran. Unsur lain dalam sangkan paran, yaitu: manusia masih harus pulang ke rumahnya yang sejati. Artinya, hidup ini bukanlah rumah yang abadi. Manusia masih harus berjalan menuju tujuan yang sejati. Jadi kendati manusia sungguh mencintai dunia, dia harus berani meninggalkannya agar sampai ke tempat yang melebihi dunia ini.
Sulit meninggalkan hidup di dunia ini. Berpisah dari hidup berarti meninggalkan pangkat, derajat dan harta. Itu semua tentu tidak mudah bagi manusia. Terlebih yang juga cukup berat adalah medhot katresnan, yaitu berpisah dari orang-orang yang dicintai. Jika pada saatnya nanti manusia berani meninggalkan dunia ini dengan ikhlas, manusia mengalami benar kesejatian dan kepastian, bahwa sungguh urip iki mampir ngombe.
Asas dan Dasar
Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia harus mempergunakannya, sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya. Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada pihak kita dan tak ada larangan. Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan.
Disini, pertama-tama yang menjadi pengertian kunci dari Asas dan dasar tersebut ialah tentang penciptaan. Penciptaan bukan berarti bahwa Tuhan menciptakan semuanya sekali jadi. Juga bukan berarti awal atau titik berangkat bagi segala sesuatu untuk menjadi. Tetapi penciptaan itu berarti bahwa Tuhan terus-menerus dan setiap saat menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia secara khusus. Seperti baris pertama Dandhanggula yang berbunyi kawruhana sejatining urip atau pahamilah makna sejati hidup ini, kesejatian itu kiranya dapat dipahami bila manusia tahu siapa sebenarnya dirinya; hakekat dirinya dan mengetahui untuk apa dia berada di dunia ini.
Asas dan Dasar menggariskan tujuan dan tugas hidup manusia dalam kalimat ini: manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan demikian menyelamatkan jiwanya. Memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan, itulah tujuan dan tugas manusia. Ketiga hal itu hanya bisa terjadi dalam tindakan, tidak dalam omongan. Malah tidak hanya dalam tindakan, ketiganya juga harus terjadi dalam diri manusia itu sendiri. Manusia menjadi manusia sesuai dengan tujuan ia diciptakan, begitu dirinya sendiri menjadi pujian, penghormatan dan pengabdian kepada Tuhan. Maka pujian, penghormatan dan pengabdian kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang ditempelkan di luar, tetapi merupakan inti dan hakekat terdalam dari keberadaan manusia itu sendiri. Ngombe tidak sekadar ngombe, tetapi ngombe yang memiliki tujuan karena memang kebutuhan diri dan juga karena ada sesuatu yang hendak dicapai.
Justru karena memuji, manghormati, dan mengabdi Tuhan merupakan bagian terdalam dari hakekat manusia sendiri, maka ketiganya tidak bertentangan dengan kebebasan manusia. Manusia tidak hanya dengan bebas menerima dan melakukan ketiganya, tetapi juga dengan menerima dan melakukan ketiganya manusia merealisasikan kebebasannya. Karena, pada saat manusia melakukan ketiga hal itu, manusia kembali kepada dirinya, menjadi dirinya, sesuai dengan tujuan dia diciptakan, dan dengan demikian Tuhan sendirilah yang sekarang datang kepadanya.
Dunia di mana manusia berdiam ini diciptakan oleh Tuhan, dan itu berarti dunia merupakan anugerah dari Tuhan sendiri bagi manusia. Dunia bagi manusia berarti sungguh berarti karena manusia berada di dalamnya. Tanpa manusia dunia itu tidak berarti. Maka, jika manusia dapat menggunakannya untuk membantu dirinya meraih tujuan dia diciptakan, itu bukan demi egoisme pribadinya, tetapi demi “menyembah, menghormati, dan mengabdi Penciptanya”.
Kalimat berikutnya dalam Asas dan Dasar ialah “Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan”. Yang dimaksud sebagai barang lain ialah dunia real, dunia sehari-hari yang digeluti, dunia tempat sejarah manusia terlaksana. Dalam konteks ini, dunia sebagai sebuah realitas ciptaan harus dipandang dengan rasa hormat sebagai sebuah sarana dimana manusia berhubungan dengan Penciptanya. Maka, jelas dunia tidak bisa disepelekan begitu saja karena merupakan pengantara antara dunia dan surga.
Dunia memiliki arti bila manusia dapat mempergunakan untuk meraih tujuan ia diciptakan, yaitu demi “menyembah, menghormati, dan mengabdi Penciptanya”. Maka, sebenarnya dunia ini pun mulia dan baik karena dapat mengantarkan manusia menuju tujuan ia diciptakan. Tetapi justru disinilah titik kritisnya, dimana dunia yang merupakan sarana bagi manusia, ternyata juga bisa diselewengkan. Maka, dunia yang sebenarnya mulia pun bisa menjadi ancaman, karena bisa menjauhkan atau bahkan menyesatkan manusia dari tujuan penciptaannya. Ibarat manuk mabur (burung terbang) dari sarangnya menuju sebuah tujuan tertentu, segala sesuatu yang ia temuia di perjalanan selain bisa menuntun menuju apa yang hendak dicapai, juga bisa menggoda dan membuat lupa apa sebenarnya tujuannya. Tetapi, tetap yang paling penting ialah senantiasa memandang dunia ini sebagai sarana yang penting untuk membantu mencapai tujuan manusia diciptakan. Karena itu, manusia harus mengambil indifferens, dimana Asas dan Dasar menuliskannya: “Karena itu manusia harus mempergunakannya, sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya. Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada pihak kita dan tak ada larangan. Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan. “ Maka indifferens adalah soal lepas bebas. Indifferens bukanlah sikap asketis atau moral, karena sesungguhnya indifferens merupakan struktur hakiki dari manusia sebagai makhluk rohani, dimana ketika keberadaannya yang terbatas berhadapan dengan Sang Pencipta yang tak terbatas, maka membuatnya untuk menjadi tak bergantung pada yang terbatas. Disinilah, Asas dan Dasar menganjurkan agar manusia membuat dirinya lepas bebas, dan menyetel dirinya sesuai dengan kelepasbebasan itu. Itu artinya, dalam mengalami, menderita, atau mencinta, manusia harus mengiyakan keterbukaannya pada apa yang lebih besar dari pengalaman, penderitaan, dan cintanya. Atau dengan kata lain, manusia harus menginginkan agar dirinya menjadi transenden; melihat diri dalam konteks antara dia dengan penciptanya.
Sebagai sebuah proses, disinilah sulitnya, karena manusia ternyata lebih suka berhenti pada yang terbatas, memilikinya, dan bahkan menjadikannya sebagai pujaan hidupnya. Manusia tak mau melepaskan, mengorbankan, atau pergi meninggalkan apa yang telah membuatnya merasa nyaman, bahkan betapapun sepelenya hal itu. Maka, sikap lepas bebas atau indifferens tidak terjadi dengan sendirinya dalam diri manusia meskipun hal ini merupakan hakekat manusia itu sendiri. Begitu manusia hendak bertindak lepas bebas sesuai dengan pengetahuan dan kebebasannya, ia merasa berat, tidak rela, sedih, dan sakit. Maka kelepasbebasan itu sama dengan kesakitan, kesedihan, bahkan kematian dirinya sendiri. Setiap kali manusia mau lepas bebas sesuai dengan hakekat dirinya, pada saat itulah ia menemui musuhnya, yakni egoismenya sendiri. Proses melawan egoisme itulah yang menyakitkan, sulit, dan berat.
Manusia sering mengira, dengan apa yang ia miliki di dunia ini, maka ia akan menjadi bahagia. Karena itu, ia mengidentifikasikan dirinya dengan miliknya, dengan barangnya, dengan keberadaannya yang tadi. Padahal disini kelepasbebasan merupakan pengorbanan, pantang, penyangkalan diri, dan bahkan kematian diri. Tidak akan pernah ada kelepasbebasan bila manusia dan keseluruhan dirinya masih terlekat pada apa yang ada di dunia ini. Kelepasbebasan memang mudah untuk dipikirkan tetapi amat sulit untuk dipraktikan. Manusia adalah dia yang berani melepas sesuatu tetapi untuk kemudian mempertahankan sesuatu yang lain. Dalam kesadaran dan rasionalitasnya, ia bisa berkata bahwa ia sudah indifferens, sudah terlepas dari ini dan itu, padahal yang sebenarnya ialah ia menghancurkan sesuatu dan kemudian beralih ke yang lain dan memeluknya kembali. Bahkan pada apa yang kelihatannya baik secara moral dalam pandangan manusia. Memang untuk hal-hal yang besar manusia bisa lepas bebas. Tetapi yang dibutuhkan adalah kelepasbebasan yang mutlak, yang keseluruhan, dan biasanya itu malah ada pada hal-hal yang kecil dan kelihatan sepele. Dan seringkali manusia justru tidak mau berkorban untuk hal-hal yang kecil itu tadi. Dengan mudah manusia melewati yang besar tetapi tersandung dalam hal-hal kecil. Karena itu, kendati sudah lepas bebas dengan terhadap hal-hal yang besar, jangan kelepasbebasan terhadap hal-hal yang kecil disepelekan, dan dianggap tidak apa-apa. Karena dengan itu manusia justru terkurung dalam hal ikhwal yang berlawanan dengan Asas dan Dasar.
Menurut Asas dan Dasar, tujuan manusia adalah memuji, menghormati, dan mengabdi pada Tuhan. Untuk itu ia harus mencari, jalan atau cara mana di dunia ini yang akan menjadi lebih membimbing ke arah tujuan ia diciptakan (magis). Tujuan dan jalan itu memang berbeda, tetapi tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Makin manusia mendekati tujuan, makin ia harus mencari jalan yang lebih membimbingnya ke arah tujuan itu. Karena itu, Asas dan Dasar mengajak manusia untuk selalu menjatuhkan pilihan, jalan mana yang lebih baik dalam membimbing ia ke arah tujuan ia diciptakan. Manusia harus selalu mencari dan makin mencari, menemukan dan makin menemukan jalan itu, karena untuk menuju Dia tak ada jalan sekali jadi dan pasti untuk selamanya. Dia adalah tujuan hidup yang yang penuh dengan rahasia dan tak terselami yang senantiasa penuh dengan hal-hal yang baru.
Maka tampak bahwa Asas dan Dasar adalah suatu kaidah hidup kerohanian yang amat memperhatikan dunia dan pengalaman manusia di dunia. Mistik Asas dan Dasar bukanlah mistik yang menarik diri dari dunia ini, melainkan mistik yang berkenaan dengan dunia ini. Allah dala Asas dan Dasar bukanlah Allah yang sudah jelas dengan sendirinya dan sekali jadi, melainkan Allah yang senantiasa dicari terus-menerus dalam pengalaman manusia dan kejadian di dunia ini. Allah yang mesti dicari dalam setiap pengalaman manusia, juga dalam pengalaman yang kelihatannya menolak Dia: dalam kekecewaan, keputusasaan, kemiskinan, dan juga penderitaan. Bahkan, Allah pun juga mesti dicari di tempat dimana kelihatannya Dia tidak ada, karena tidak mustahil Allah bisa juga ditemukan justru dalam hal-hal yang kelihatannya tak mengandung Dia.
Akhir kata, bisa dikatakan bahwa keliru bila hidup di dunia ini hanya sekadar mampir ngombe. Sebab sesungguhnya dunia ini adalah sakramen dari Allah sendiri. Dunia ini bukan hanya sekadar tanda bagi kehadiranNya, tetapi juga tempat dan kemungkinan satu-satunya di mana manusia sebagai ciptaan dapat menemukan diriNya. Dalam hidupnya, manusia tak boleh mengikatkan diri pada dunia ini, entah dalam kegembiraan entah dalam kekecewaannya. Karena dengan lepas dari keterikatannya di dunia ini, Allah pun dengan leluasa akan menciptakannya secara baru. Maka tak ada suatu pun yang tetap di dunia ini karena manusia juga turut diajak untuk turut serta dalam karya Tuhan yang senantiasa menciptakan. Dan disinilah Asas dan Dasar mengundang manusia untuk berani selalu memutuskan dalam setiap momen hidupnya.
Senin, 22 Juni 2009
ESENSI DIRI KITA,SEPERTI INIKAH?
2.coba renungkan,bahwa didalam kitaran para pengikut dan berbagai pujian,engkau ternyata belum memasuki pintu gerbang kerohanian.
3.lihatlah,amatilah,camkan,bahwa orang berpesta pora sambil saling singguk untuk mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.
4.engkau menyukai pujian untuk dirimu?obatnya,turunlah dari kursimu dan duduklah di atas tanah.
5.hindari membeli neraka yang begitu murah.
6.jangan memastikan pintu surga telah terbuka untukmu hanya karena orang-orang lain mengatakan engkau shaleh.
mari kita renungkan esensi diri kita yang sebenarnya,seperti apa,dan bagaimana. ketidaktahuan kita dan keterbatasan kita,mari jadikan semua itu sebuah cermin yang kan memberi kita pencerahan dalam membuka diri. esensi kita...
Jumat, 19 Juni 2009
mengutip surat Al Baqarah
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang2 yang khusyu’, (yaitu) orang2 yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah 45-46)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah2an. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar, (yaitu) orang2 yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang2 yang mendapat petunjuk. (QS Al Baqarah 155-157)
Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS Al Baqarah 163)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah 186)
Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba2-Nya. Hai orang2 yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah2 syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al Baqarah 207-208)
…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 216)
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku,dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku. (QS Al Baqarah 152)