Di kehidupan keseharian, secara tidak sadar manusia selalu merekam/menyimpan kejadian yang dialami baik ketika masih anak-anak bahkan sampai dewasa. Pada umumnya kehidupan orang jawa, hal-hal yang terjadi selama hidup tidak tercatat secara tersurat. Bisa dikatakan sejarah orang jawa kebanyakan tidak tercatat atau tersurat pada pada suatu media, namun mereka memiliki daya ingat yang kuat akan suatu kejadian yang telah terjadi di masa lampau, bahkan sampai dengan tanggal dan waktu terjadinya.
Itulah kemudian muncul adanya paribasan/istilah “ananing papan tanpa tulisan, ananing tulisan tanpa papan”. Makna sederhana dari istilah tersebut kurang lebih adalah “adanya papan/media tanpa adanya tulisan, dan adanya tulisan/cerita tanpa tertulis di suatu media”.
Ananing papan tanpa tulisan, maksudnya adalah bahwa segala yang telah dialami manusia akan tersimpan dengan baik secara tidak tersurat di didalam memori otak manusia, baik secara tidak sengaja maupun tidak. Kejadian-kejadian lampau akan tersimpan dengan baik dalam memori yang kelak akan menjadi suatu pengalaman bagi mereka dengan meningat dan menceritakan kembali kejadian-kejadian tersebut. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa ananing papan tanpa tulisan adalah perwujudan manusia seutuhnya dengan segala ingatan dan memori yang telah tersimpan dalam otak dan benak pikiran masing-masing. Perwujudan hidup manusia seutuhnya diibaratkan sebagai suatu media yang menyimpan segala kejadian, pengalaman, dan ilmu pengetahuan.
Ananing tulisan tanpa papan, maksudnya adalah implementasi/pelaksanaan dari suatu kejadian, pengalaman ataupun ilmu pengetahuan yang pernah didapat dari berbagai sumber. Apa yang pernah dialami manusia cenderung akan mengulang, mengeluarkan (berupa cerita, legenda, sejarah), mengajarkan kembali ilmu pengetahuan, atas apa yang pernah mereka alami atau mereka dapatkan dari suatu sumber tersebut. Secara sederhana “ananing tulisan tanpa papan” adalah kemampuan daya manusia untuk mengulang dan mengingat kembali yang pernah mereka dapatkan yang di ungkapkan, dituangkan, diulang kembali secara tersirat tanpa tercetak pada suatu media (papan)
Bisa dikatakan sifat manusia adalah memiliki jiwa “guru sejatining wong urip”, yang selama ini sering dicari kebanyakan manusia untuk dijadikan maha guru.
Justru pada sifat dasar manusia itulah “guru sejatining wong urip” karena memiliki kemampuan daya ingat akan apa yang pernah mereka alami dan dapatkan di jagad bumi ini.
Selasa, 23 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar